Heboh Buaya Dibantaran Batang Ombilin, Warga Minta Pemko Periksa Pusat Penangkaran

Sawahlunto, airmagz.com– Warga di bantaran Sungai Ombilin di Desa Salak, Kota Sawahlunto, sempat dihebohkan dengan penemuan seekor buaya berukuran cukup besar saat berenang. Warga ketakutan dan kuatir jika makhluk reptil sejenis mecistop cataphractus atau snouted crocodile ini memangsa mereka. Sebab, selama ini sungai tersebut menjadi tempat beraktifitas warga mencari kehidupan.

Yuminarti, 63 tahun, warga Desa Salak yang biasa beraktifitas mencuci di bantaran sungai terkejut saat melihat penampilan buaya yang menurutnya berukuran cukup besar berenang ditengah sungai. Dia seakan tak percaya, malahan beranggapan itu bukan buaya tapi sejenis biawak besar, karena seumur-umur sungai itu tak pernah dihuni buaya.

Tak mau diterkam buaya yang berada dihadapan matanya tersebut, Yumiarti langsung bergegas meninggalkan tempat tersebut, kemudian memberitahu ke warga sekitar, dan peristiwa tersebut menjadi perhatian masyarakat untuk tidak berakatifitas di sungai seperti mencuci, mandi, dan menambang pasir atau kerikil.

“Saya melihat jelas bentuknya, berukuran cukup besar berenang ditengah sungai arah ketepi ketika saya sedang hendak menuju tepian sungai dekat mesjid jembatan Salak. Karena takut diterkam saya menjauh dan memberitahukan kepada warga sekitar.” tutur Yumuarti, kepada airmagz.com, Kamis (16/7/20).

Cerita lain juga datang dari Ayu (30), perempuan ini sempat merekam penampakan buaya di lokasi lain tepatnya di Batu Guriang, perbatasan antara Desa Salak dengan Desa Rantih dan sealiran dengan wilayah Desa Sikalang. Dari video hasil rekaman Ayu, terlihat buaya bermoncong panjang sejenis snouted crocodile. Namun demikian, perlu penelusuran lebih jauh oleh pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar.

Masyarakat banyak menduga, kedatangan buaya yang selama ini tak pernah ada di Sungai Ombilin tersebut boleh jadi berasal dari lokasi penangkaran buaya yang dikelola Dinas Pariwisata atau Pemko Sawahlunto di kawasan bekas penambangan batubara PT BA UPO, Tanah Hitam, Desa Sikalang, Kecamatan Talawi.

Sekretaris Desa Sikalang Roni Wibowo, yang dihubungi airmagz.com dikantornya, Kamis (16/7) mengungkapkan, dulunya masalah buaya penangkaran ini sudah dilaporkan ke Pemko Sawahlunto, namun kurang mendapat respon ditengah rasa kekuatiran kami yang dekat dengan pusat penangkaran.

Menurut cerita yang dihimpun, dahulunya Pemdes Sikalang pernah menyampaikan  soal buaya dipusat penangkaran ini telah beranakpinak, lalu anaknya keluar kandang dan ditemukan oleh panak-anak yang sedang bermain kemudian memungutnya dan memasukan ke danau Tanah Hitam yang ada didekat itu, serta ke anak sungai yang bermuara ke Sungai Ombilin.

Tidak tertutup kemungkinan buaya yang ditemukan di Batu Guriang dan dekat Mesjid Salak itu bersumber dari pusat penangkaran yang ada. Untuk mengantisipasi peristiwa diluar dugaan, masyarakat minta Pemko Sawahlunto segera mengevakusi buaya tersebut dari dalam sungai untuk dikembalikan ke pusat penangkaran.

“Kami disini sangat cemas, boleh jadi cerita yang dulu kami sampaikan itu jadi kenyataan bahwa, penemuan anak-anak buaya yang masih sangat kecil-kecil saat itu menjadi mainan anak-anak sudah jadi besar dan hidup di sungai. Tapi untuk memastikan semua itu perlu Pemko dan pihak BKSDA turun kelapangan. Saya menduga, buaya itu tidak hanya ada di sungai tapi juga ada di danau Tanah Hitam Sikalang” ungkap Roni.

Dari pantauan Rakyat Sumbar dilapangan, pusat penangkaran buaya yang ada kondisinya kini sangat memprihatinkan. Kandang seperti dibiarkan rusak dan tak direnovasi, sementara disekelilingnya ditumbuhi semak belukar. Untuk masuk kedaerah penangkaran tak ada petunjuk tertentu. Namun masyarakat harus waspada didalam pusat penangkaran banyak dihuni buaya berukuran besar-besar yang jumlahnya belum dihitung secara rinci.(IYD).

 

Share :
You might also like