Penerbangan Dalam Angka 75, Selamat Hari Indonesia!

Oleh: Capt Teddy Hambrata Azmir (Maj. Rtd)

Praktisi Penerbangan

Cara kita mewujudkan Merah Putih berkibar di Angkasa Indonesia adalah sebagaimana kata para pendiri bangsa mengenai Pantjalaksana Udara, sebuah konsep untuk melihat Pancasila dari Udara antara lain: membangun industri penerbangan nasional; aeroclub dan pandu udara; TNI Angkatan Udara; Penerbangan Sipil Nasional serta pertambangan nasional (R. Suryadarma)

Dunia penerbangan sebagai salah satu wujud bagi kita sebagai bangsa yang merdeka sebagai pagar hidup negeri dan mengumandangkan seri “Papa Kilo” yang berarti Merah Putih berdaulat di wilayah udara Indonesia serta ikut serta dalam mensejahterakan dunia melalui perhubungan udara menuju mancanegara maupun sebaliknya.

Namun, dalam tahun 2020 ini, dunia penerbangan Indonesia sedang sakit parah, sebab oleh merebaknya wabah nasional Covid-19. Tercatat triliunan dolar telah menjadi taruhannya untuk strata dunia penerbangan dunia, karena sebagian besar pengguna transportasi udara dan penikmat pariwisata enggan untuk keluar rumah.

Restart Economy, maupun aviation recovery tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena sesuai Pantjalaksana, bahwa Aviasi akan selalu terkait dengan kegiatan penyelenggaraan negara.

Beberapa maskapai telah berupaya untuk melakukan restrukturisasi hutang mereka (dari berbagai sumber), melakukan efisiensi terhadap karyawan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja  atau unpaid leave dan juga pemotongan gaji besar-besaran dengan harapan terbaik akan dapat terus beroperasi dengan mengoptimalkan biaya operasional serta perawatan pesawat ditengah-tengah krisis.

Investasi terhadap dunia penerbangan dunia tentunya pada saat ini menjadi perhitungan tanpa prioritas bagi beberapa investor dunia, kecuali dapat membangun dari sesuatu yang baru tanpa hutang di dalamnya. Seperti pada kasus era reformasi medio 1999 – 2004, dimana banyak perusahaan penerbangan tumbang dengan hadirnya sebuah sentra maskapai baru di tengah-tengah Indonesia pada saat itu.

Tentunya, ini adalah hanya sebuah opini pribadi, namun berdasarkan analisa terhadap yang pernah dan sedang terjadi. Entah, apakah akan mampu bertahan, atau akan hilang dalam peredaran, akan tetapi dunia penerbangan nasional harus tetap berdiri dan mengibarkan Merah Putih di seluruh dunia. Apapun itu, para pekerja aviasi tidak perlu khawatir, karena patah satu hilang berganti adalah sesuatu yang pasti.

Bersama-sama seperti semut untuk mengembalikan keadaan seperti semula adalah sebuah keniscayaan, namun kebersamaan para pelaku aviasi harus dengan niat yang sama dan lurus dan mengesampingkan egosentris sektoral hingga ego warna antar maskapai. Bersaing dengan ketat dan sopan sehingga terjadi mutualisme diantara pelaku bisnis aviasi adalah sebuah hal yang belum pernah terjadi, namun perlu dirasakan kedepan nanti.

Momen ini adalah saat bersejarah bagi Indonesia pada umumnya dan untuk dunia penerbangan nasional pada khususnya. Pelajaran yang dapat diambil adalah, wabah ini telah membuktikan bahwa transportasi udara adalah bagian dari komponen strategis negara, ketika terjadi stagnasi dalam perputaran bisnisnya, maka negara akan terseret kerugian yang tidak sedikit.

Ini adalah momen berharga untuk kita dapat kembali membangun dunia aviasi dengan sebuah “rasa”; “asa”; dan pikiran terbuka yang akan mewujudkan pembangunan dunia penerbangan Indonesia dengan trust dan integritas.

Salam Penerbangan!

Salam Sehat!

Share :
You might also like