Mengubah Emisi Karbon Jadi Peluang

Jakarta, airmagz.com – Indonesia adalah negara yang secara historis berkembang dan sejahtera berkat sumber daya alamnya. Perubahan iklim bukanlah topik yang utama tetapi juga bukan sepenuhnya baru, terutama di bidang energi, namun semakin hari semakin penting karena para pemangku kepentingan, seperti, konsumen, investor, bankir, sangat menekankan upaya untuk mengurangi risiko perubahan iklim. Dengan semakin banyak attensi dari pemangku kepentingan maka perhatian investor terhadap perubahan iklim juga pasti akan naik.

Climate Action 100+ diluncurkan pada akhir 2017 oleh investor di seluruh dunia untuk memastikan perusahaan penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia mengambil tindakan terkait perubahan iklim.

Hingga saat ini, lebih dari 450 investor dengan aset kelolaan senilai lebih dari USD40 triliun telah bergabung dalam aksi tersebut. Hal ini jelas menunjukkan meningkatnya permintaan untuk lebih banyak informasi keuangan terkait perubahan iklim oleh investor. Regulator di Asia juga menanggapi permintaan investor dan meningkatkan persyaratan keterbukaan keuangan (Lihat lampiran III di file terlampir). Oleh karena itu, kami yakin hal ini akan membantu investor untuk menilai risiko perubahan iklim secara lebih baik.

 Perubahan iklim menimbulkan serangkaian potensi dampak ekologi, fisik dan kesehatan, termasuk banjir, kekeringan, badai, kenaikan permukaan laut, dan perubahan pertumbuhan tanaman pangan, yang membahayakan kehidupan, mata pencaharian dan pertumbuhan ekonomi. Penyebab utama perubahan iklim adalah pengunaan bahan bakar fosil, yang luas. Sudut pandang ini didukung oleh sejumlah besar sumber-sumber penelitian ilmiah. Ada juga peningkatan kesadaran tentang perubahan iklim dan tuntutan lebih kuat untuk dekarbonisasi dari masyarakat umum. Diperkirakan enam juta orang di lebih dari 180 negara melakukan protes di jalan-jalan sejak 20 hingga 27 September tahun lalu, pada minggu yang sama dengan KTT Climate Action 100+ PBB, menuntut lebih banyak tindakan untuk mengurangi emisi rumah kaca.

Ada hubungan positif kuat antara pendapatan dan emisi karbon per kapita. Negara berpenghasilan tinggi juga memiliki emisi karbon per kapita lebih tinggi. Berkat pergeseran sumber energi, dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan, emisi karbon per kapita di sebagian besar negara Barat menunjukkan tren menurun. Di sisi lain, emisi karbon per kapita di Asia-Pasifik meningkat karena permintaan energi untuk pembangunan semakin tinggi dimana bahan bakar fosil merupakan sumber energi dominan.

Per November 2019, 187 pihak telah meratifikasi Kesepakatan Paris dan berikrar untuk mengontrol emisi gas rumah kaca (GRK) untuk membatasi pemanasan global hingga 2 derajat Celcius pada 2100 dari tingkat pra-industri. Mereka juga telah menyerahkan kontribusi masing-masing negara, atau yang disebut Nationally Determined Contributions (NDC), yang mewakili tujuan mitigasi yang ditentukan oleh masing-masing negara untuk periode awal 2020.

 Risiko perubahan iklim

 Risiko perubahan iklim akan berfokus pada risiko transisi di sektor emisi karbon utama. Laporan ini adalah yang pertama dari kami dengan fokus pada sektor eksplorasi minyak dan gas, pertambangan batu bara dan sektor pembangkit listrik di Tiongkok/Hongkong, Indonesia, Malaysia, dan Thailand.

 Untuk perusahaan eksplorasi minyak dan gas dan perusahaan pembangkit listrik, yang sedang dalam proses transisi dari model bisnis intensitas karbon tinggi ke sistem ekologi energi hijau, salah satu risiko utama berasal dari penetapan harga karbon. Untuk mendorong dan mempercepat pengurangan emisi karbon, beberapa negara telah atau sedang dalam proses menetapkan harga karbon, seperti ditunjukkan oleh diagram di bawah ini. Dengan memberi nilai moneter pada emisi karbon, biaya dampak perubahan iklim dan peluang untuk pilihan energi rendah karbon dapat lebih tercermin dalam biaya produksi. Hal ini juga membantu mengalihkan beban kerusakan akibat emisi ke penghasil emisi.

Penetapan harga karbon diterapkan terutama melalui pajak karbon dan Sistem Perdagangan Emisi (Emission Trading System, ETS) atau program pembatasan dan perdagangan karbon (cap-and-trade). Pajak karbon secara langsung menetapkan harga karbon dengan menetapkan tarif pajak eksplisit untuk emisi. ETS memungkinkan emiten untuk memperdagangkan unit emisi untuk memenuhi target emisinya, yang ditetapkan oleh badan pengatur. Harga emisi ditentukan melalui penawaran dan permintaan unit emisi.

 Efektivitas pajak karbon dan ETS dalam mengurangi emisi tidak pasti. Emisi di British Columbia telah turun sebanyak 8% sejak pajak karbon diberlakukan pada 2008. Namun, pajak karbon di Norwegia, yang diberlakukan 20 tahun sebelumnya, tidak mengurangi emisi karbon negara tersebut. Efektivitas EU ETS, ETS multinasional pertama dan terbesar di dunia, dalam mengurangi emisi juga masih kontroversial. Namun, berbagai reformasi ETS telah dilaksanakan di banyak negara, yang seharusnya meningkatkan efektivitas ETS dalam mengurangi emisi.

Lebih penting lagi, mekanisme penetapan harga karbon, baik pajak karbon maupun ETS, diperlukan untuk mendorong perubahan dalam perilaku konsumsi, produksi dan investasi untuk transisi ke masyarakat rendah karbon. Kita akan menyaksikan semakin banyak negara atau yurisdiksi menerapkan beberapa bentuk mekanisme penetapan harga karbon.

Dampak positif perubahan iklim

Untuk perusahaan eksplorasi minyak dan gas, perusahaan pertambangan batu bara dan pembangkit listrik, dampak utama termasuk potensi risiko penurunan pendapatan dan penurunan nilai aset penghasil karbon karena permintaan lebih besar untuk energi hijau, biaya operasi lebih tinggi (karena pengetatan peraturan dan tingkat emisi), kekurangan sumber daya (seperti kelangkaan air), dan kebijakan hukum untuk efek perubahan iklim, yang merusak. Peluang potensial termasuk pengurangan konsumsi energi melalui peningkatan efisiensi energi, pengembangan produk hijau baru, ekspansi ke energi terbarukan, dan lain-lain. 

Untuk perusahaan eksplorasi minyak dan gas dan perusahaan pembangkit listrik, permintaan akan energi lebih ramah lingkungan berdampak langsung pada operasi intensitas karbon tinggi yang mereka miliki. Oleh karena itu, terdapat potensi risiko penurunan pendapatan, yang pada gilirannya akan menyebabkan penurunan nilai aset penghasil karbon. Selain itu, pengetatan peraturan dan tingkat emisi berarti biaya operasi lebih tinggi, baik melalui peralihan ke bahan bakar dengan intensitas karbon lebih rendah atau pemasangan teknologi penangkapan karbon. Potensi risiko dari kekurangan sumber daya, seperti kelangkaan air, dapat berdampak negatif terhadap produksi, dan sebagai akibatnya berdampak negatif terhadap pendapatan dari total penjualan. Ada juga peningkatan jumlah kasus hukum terhadap perusahaan bahan bakar fosil dan perusahaan utilitas dalam beberapa tahun terakhir karena efek perubahan iklim, yang merusak.

Sementara itu, peluang juga muncul dari perubahan iklim. Sebagai contoh, perusahaan dapat mencari cara untuk mengurangi konsumsi energi melalui peningkatan efisiensi energi, pengembangan produk hijau baru, ekspansi ke energi terbarukan, dan lain-lain. Dengan demikian, perubahan iklim dapat berdampak negatif dan positif pada pendapatan dari total penjualan dan biaya operasional perusahaan.

Share :
You might also like