Mau Liburan saat Pandemi, Bijaklah Bersikap

Jakarta, Airmagz.com – Libur panjang cuti bersama pada 28 dan 30 Oktober 2020 dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW pada pekan ini tentu menjadi perhatian semua pihak. Masyarakat tentu saja bebas mau melakukan kegiatan apa saja, namun kondisi pandemi Covid-19 saat ini tentu tak bisa disamakan seperti libur sebelum pandemi.

Sudah seperti hal umum, libur panjang pasti dimanfaatkan sebagian besar masyarakat untuk bepergian mulai dari liburan, pulang kampung atau sekedar berkunjung ke rumah sanak famili. Mengingat pandemi yang belum selesai, tentu ini menjadi kekhawatiran akan menimbulkan potensi penyebaran virus ini kembali naik signifkan.

Kekhawatiran ini tentu bukan tanpa alasan, masih ingat saat pandemi baru beberapa bulan masuk ke Indonesia, angka kasus positif harian hanya berkisar sekian ratus saja. Namun saat libur panjang pertama lebaran, angka kasus harian langsung tembus 1.000-an. Begitu juga saat libur panjang HUT RI dan Tahun Baru Islam, angkanya naik signifikan ke 3.000-an.

Pemerintah telah memberikan banyak himbauan meski tidak melarang setiap kegiatan masyarakat, namun karena kondisi masih pandemi, maka jalan satu-satunya untuk turut serta menekan juga memutus mata rantai penularan adalah dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Presiden RI Joko Widodo, saat dalam rapat terbatas Senin (19/10/2020) lalu, meminta agar masyarakat bijak memanfaatkan liburan panjang kali ini. Jangan sampai libur panjang malah menimbulkan lonjakan kasus. Karena itu, Jokowi meminta jajarannya membuat strategi agar angka penularan tak naik.

Permintaan itu langsung direspon Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian dengan menerbitkan surat edaran (SE) nomor 440/5876/SJ kepada seluruh kepala daerah, isinya ada 11 arahan yang meminta kepala daerah mengimbau masyarakatnya masing-masing untuk menghindari melakukan perjalanan.

Arahan juga berisi permintaan daerah untuk mengidentifikasi tempat wisata yang menjadi sasaran liburan agar memiliki protokol kesehatan dan membatasi jumlah wisatawan sampai 50 persen.

Smeentara itu Ketua Satgas Penanganan Covid-19, Doni Monardo, penerapan protokol kesehatan baik oleh masyarakat yang melakukan kegiatan baik liburan atau perjalanan ke daerah lain, serta pengelola kawasan yang berpotensi didatangi banyak orang sudah harus wajib diterapkan.

Apalagi menurut Doni, pihaknya memprediksi pada libur panjang kali ini masyarakat akan antusias bepergian ke tempat-tempat wisata. “Selama tujuh bulan ini masyarakat tidak berani keluar rumah. Maka keinginan berlibur pasti akan tinggi,” ujarnya dalam talkshow daring yang ditayangkan di kanal YouTube resmi BNPB, Rabu (21/10/2020).

Namun Doni meminta agar masyarakat memikirkan kembali jika ingin bepergian ke luar rumah, karena mengisi liburan tidak harus pergi ke tempat wisata tapi bisa juga dilakukan di rumah dengan berbagai kegiatan.

“Protokol Kesehatan harus betul-betul diterapkan terutama 3M jika terpaksa harus ke luar rumah, yakni Memakai Masker, Mencuci Tangan dengan Sabun di Air Mengalir, hingga Menjaga Jarak, jadi baik wisatawan maupun pengelola harus satu sikap,” tutur Doni.

Ancaman Lonjakan Kasus

Peringatan mengenai kemungkinan lonjakan kasus positif juga disampaikan Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, pihaknya memprediksi, libur panjang akhir Oktober 2020 ini berpotensi memunculkan lonjakan kasus Covid-19 harian dan kumulatif mingguan hingga 118 persen selama dua pekan kedepan usai liburan.

Untuk itu pihaknya meminta masyarakat sebisa mungkin menekan keinginan untuk bepergian ke luar rumah hingga melakukan perjalana jauh ke luar kota maupun sebaliknya.

Jika pun harus bepergian hendaknya dilakukan hanya untuk urusan mendesak dan tetap mematuhi protokol kesehatan mulai dari 3M hingga menghindari kerumunan, “Harus sama-sama dipikirkan dulu resiko yang ada sehingga bisa sama-sama waspada,” katanya saat keterangan pers yang disiarkan kanal YouTube BNPB Indonesia, Selasa (20/10/2020) lalu.

Wiku mengungkapkan, berdasarkan hasil penelitian Yilmazkuday, 1 persen peningkatan masyarakat yang berdiam di rumah akan mengurangi 70 kasus dan 7 kematian mingguan. Bahkan pengurangan 1 persen mobilitas masyarakat menggunakan transportasi umum akan mengurangi 33 kasus dan 4 kematian mingguan.

Sementara pengurangan 1 persen kunjungan masyarakat ke pusat perbelanjaan maupun tempat rekreasi, akan mengurangi 25 kasus dan 3 kematian mingguan, “Jadi bisa  dibayangkan berapa banyak nyawa yang bisa kita lindungi dengan pengurangan bepergian keluar rumah,” ungkap Wiku.

Jadi dari apa yang bisa kita pahami bersama, sebaiknya masyarakat dan kita semua wajib sama-sama bijak dalam menjalani semua rutinitas kehidupan sehari-hari di tengah ancaman pandemi Covid-19 ini.

Tanpa kesadaran bersama, sepertinya mustahil pandemi ini bisa diselesaikan dengan cepat. Apalagi hanya diserahkan kepada pemerintah atau pihak berwenang, semua kemampuan pasti ada batasnya termasuk fasilitas dan tenaga kesehatan yang ada. Tak bisa dibayangkan jika lonjakan kasusnya meningkat tajam di luar kapasitas yang ada, apa yang akan terjadi.

Untuk itu ayo pikirkan kembali niat kita jika akan bepergian, mulai dari penerapan protokol kesehatan hingga resiko penularannya, sehingga kita bukan hanya bisa melindungi diri sendiri juga orang-orang tercinta, tapi orang lain yang rentan tertular juga bisa terselamatkan.

Share :
You might also like