Mencegah Jadi Kunci Keberhasilan Melawan Covid-19

Jakarta, Airmagz.com – Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI), Prof. dr. Hasbullah Thabrany, menegaskan cara paling ampuh melawan pandemi Covid-19 dan penyakit lainnya selain vaksinasi adalah mencegahnya dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan (Prokes) berupa 3M yakni Memakai Masker, Mencuci Tangan, dan Menjaga Jarak Aman.

Dalam keterangan resmi yang diterima Airmagz.com, Senin (30/11/2020), Prof. Hasbullah Thabrany mengatakan pemerintah telah berupaya serius memberikan perlindungan kepada masyarakat terhadap dampak pandemi Covid-19.

Perlindungan terhadap Kesehatan masyarakat menjadi prioritas, pemerintah terus melakukan upaya Testing, Tracing, dan Treatment, serta edukasi 3M guna menekan penularan Covid-19.

Pemerintah juga menanggung biaya perawatan rumah sakit bagi pasien Covid-19, yang berdasarkan hasil survei menunjukkan rata-rata dikeluarkan biaya perawatan Rp184 juta per orang.

Selain biaya yang besar masyarakat yang terdampak Covid-19 tidak bisa bekerja secara produktif sehingga menurunkan pendapatan mereka. Belum lagi kerugian apabila ada warga negara yang meninggal di usia produktif, beban biaya keluarga yang ditinggalkan pasien tentu menjadi beban tambahan.

“Nah pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, masyarakat harus sadar dan memiliki andil besar, karena apabila kita bisa disipilin menjalankan protokol kesehatan 3M, sementara pemerintah aktif menjalankan 3T (Tracing, Testing, Treatment), maka kita dapat menghemat kerugian negara yang lebih besar lagi, bisa sampai Rp500 triliun, dan menggunakannya untuk membangun ekonomi Indonesia,” kata Prof. dr. Hasbullah Thabrany.

Menurut Prof. Hasbullah Thabrany, kerugian itu bisa tidak perlu dilakukan jika masyarakat disiplin turut mencegahnya, “Saya kira kalau dirawat lebih dari 30 hari apalagi harus masuk ICU yang biayanya bisa sehari Rp15 juta per hari, pengeluarannya bisa lebih dari seratus juta. Tapi masyarakat perlu pahami, meski ditanggung negara maka jangan merasa nyaman dan tidak peduli menjalankan protokol Kesehatan,” jelas Prof. Hasbullah.

“Ingat pada saat dirawat kita menjadi tidak produktif, itu sudah kehilangan banyak pendapatan per harinya. Belum lagi setiap hari pasien merasa khawatir dengan kondisi kesehatannya, ini yang tidak bisa dihitung oleh uang,” tambah Prof. Hasbullah.

Mencegah, Cara Terbaik

Cara terbaik agar masyarakat dan negara tidak merugi lebih besar lagi adalah dengan mencegah, jangan sampai terkena Covid-19. Oleh karena itu Prof. Hasbullah menyarankan untuk disiplin menjalani protokol kesehatan 3M.

“Kalau nanti sudah ada vaksin, kita tambah dengan vaksin. Meskipun harga vaksin belum keluar nilainya, tapi misalnya harganya nanti katakanlah Rp200.000, investasi ini akan memberikan kita peluang lebih aman daripada berisiko besar terinfeksi dan memerlukan pengobatan,” lanjutnya.

Prof. Hasbullah menuturkan vaksin terbukti telah banyak memberikan ketenangan sebagai upaya pencegahan, contohnya vaksinasi BCG yang akhirnya bisa mencegah TBC. Namun jika enggan atau tidak mau divaksin, selain resiko kerugian apabia terinfeksi Covid-19, maka hidup bisa tidak nyaman karena risiko mengeluarkan Rp200-300 juta apabila terinfeksi.

“Dari perspektif agama, menjaga diri dan orang lain di sekitar kita agar tidak tertular Covid-19 adalah ibadah. Saking besarnya ibadah itu sampai naik haji dan sholat jumat berjamaah pun boleh ditinggalkan untuk menghindari penularan lewat kerumunan,” tutur Prof. Hasbullah.

Untuk itu ia berharap masyarakat harus berpifikir positif, selektif, dan cerdas dalam menerima informasi, dengan mengambil dari sumber resmi dan terpercaya seperti penjelasan pemerintah.

Penyakit Serius

Sementara itu Icha Atmadi ST, salah seorang penyintas Covid-19, memperkuat penjelasan Prof. Hasbullah. Menurutnya tidak hanya merugikan secara ekonomi, namun juga penyakit Covid-19 ini sangat serius.

“Covid-19 ini serius sekali. Untuk gejala paling ringan pun bisa terasa sakit baik bagi fisik maupun mental. Apalagi bagi mereka yang mengalami gejala berat, seperti yang dialami ayah saya waktu itu, yang memerlukan alat bantu pernafasan. Perasaan cemas yang dirasakan itu seperti setiap hari akan menghadapi kematian,” ungkapnya.

Menurutnya, apabila biaya perawatan dirinya dihitung dan ditanggung secara mandiri, bisa mencapai ratusan juta rupiah selama 45 hari menjalankan perawatan. Hanya saja biaya perawatan Icha dan keluarga serta pasien Covid-19 lainnya saat ini ditanggung negara.

“Semua pasien Covid-19 baik yang gejalanya ringan, sedang, maupun berat, mengalami titik terendah sehingga membuat kita lebih introspeksi. Ayah saya sampai mendapatkan beberapa suntikan infus, belum lagi ditambahkan alat bantu pernafasan, serta alat pendukung dan tindakan medis lainnya. Jadi benar-benar mencemaskan waktu itu,” tambahnya.

Icha Atmadi menambahkan, dengan pengalaman ini protokol kesehatan dalam keluarganya lebih diperketat setelah sembuh dari Covid-19. Ia berharap pengalaman dirinya dan keluarga bisa menjadi motivasi teman-teman dan masyarakat untuk disiplin protokol kesehatan.

Share :
You might also like