Juli 2021, Singapore Airlines akan Beroperasi Sepertiga dari Kapasitas Pra-COVID-19

Singapura, Airmagz.com – Singapore Airlines (SIA) Group menargetkan akan beroperasi sepertiga dari kapasitas Pra-pandemi COVID-19 pada Juli 2021 mendatang.

SIA Group sebelumnya telah membukukan rekor kerugian sebesar lebih dari SGD4.3 miliar atau sekitar Rp46 triliun pada tahun fiskal 2020.

“Kami sepenuhnya mendukung cara yang terkontrol dan aman untuk membuka penerbangan, yakni dengan berpartisipasi dalam program Koridor Perjalanan Aman bernama Reciprocal Green Lanes (RGL), serta melakukan koordinasi dan persiapan untuk fasilitas berkunjung tanpa melakukan karantina, berupa travel bubble dengan sejumlah negara,” kata CEO SIA, Goh Choon Phong, dalam konferensi virtual dengan analis dan media, Kamis (20/5/2021) seperti dilansir channelnewsasia.com.

Ia menuturkan kargo juga telah menjadi primadona baru dengan permintaan yang kuat diperkirakan setidaknya selama beberapa bulan mendatang.

Untuk itu SIA Group telah membangun kembali kapasitasnya sejak dipangkas menjadi 3 persen pada April 2020, usai Singapura menutup perbatasannya karena pandemi COVID-19.

Pada April 2021, kapasitasnya naik menjadi 24 persen dan diproyeksikan tumbuh stabil menjadi 32 persen pada Juli 2021 mendatang.

Meski pembukaan operasional penerbangan khususnya penumpang tidak akan mulus seperti yang diharapkan, CEO Goh berharap pihaknya bisa melakukan tambal sulam melalui berbagai rute potensi yang rendah kasus infeksi COVID-19, meski ada potensi ledakan kasus infeksi di sejumlah negara seperti Jepang, Malaysia bahkan Singapura sendiri.

Namun pihaknya optimis dengan program vaksinasi yang dinilai efektif mengurangi resiko infeksi, ditambah rencana operasional travel bubble, SIA Group bisa merespon setiap langkah operasi perusahaan dengan tepat sehingga memastikan perusahaan tetap bisa bertahan melalui strategi yang sukses.

Sementara itu Wakil Presiden Eksekutif SIA untuk Komersial, Lee Lik Hsin, mengatakan SIA Group yang terdiri dari Singapore Airlines, SilkAir dan Scoot juga memiliki SIA Engineering Company.

Ia mengakui jika pandemi memang sangat mempengaruhi bisnis, namun didukung adanya permintaan kargo yang terus naik, pihaknya sangat percaya target operasional pada Juli 2021 mendatang adalah keputusan yang tepat.

“Kargo sekarang menyumbang 71 persen dari pendapatan grup, tumbuh 38,8 persen menjadi lebih dari SGD2,7 miliar atau sekitar Rp29 triliun di tahun fiskal 2020/2021,” katanya.

Sementara itu, pendapatan penumpang yang diterbangkan turun lebih dari SGD12 miliar atau sekitar Rp129 triliun, atau sekitar 95 persen menjadi SGD684,7 juta atau sekitar Rp7 triliun, karena pengangkutan penumpang anjlok 98 persen.

Tidak Ada Lagi Pengurangan Karyawan

Dalam kesempatan ini, SIA Group juga melaporkan bahwa mereka telah mengurangi kerugian tunai bulanan menjadi antara lebih dari SGD100 juta atau sekitar Rp1 triliun sampai SGD150 juta atau sekitar Rp1,5 triliun, turun dari sekitar lebih dari SGD350 juta atau sekitar Rp3 triliun pada 2020 lalu.

“Kerugian uang tunai akan tetap kami usahakan stabil pada level ini hingga perusahaan bisa membangun kembali operasional yang tepat, dengan tetap memastikan bisa menutupi biaya tunai variabel,” kata CFO SIA Group, Mr Barnes.

Menurutnya SIA saat ini telah berhasil menurunkan biaya hingga 60 persen atau lebih dari SGD9,6 miliar atau sekitar 103 triliun dan telah secara signifikan mengurangi pengeluaran non-bahan bakar karena pemotongan kapasitas, inisiatif penghematan biaya dan skema dukungan pemerintah.

Ia mengungkapkan, pengurangan biaya yang sangat signifikan berasal dari pengurangan separuh biaya staf, yang turun lebih dari SGD1,4 miliar atau sekitar Rp15 triliun.

Tahun lalu, SIA memangkas ribuan karyawan, mengurangi gaji dan tunjangan staf. Bahkan sekitar 20 persen dari posisi karyawan kembali dikurangi pada Tahun Fiskal 2020/2021, dan pemotongan gaji bagi karyawan juga masih ada.

“Ini memang menyakitkan mengingat kerugian SIA Group mencapai lebih dari SGD4,3 miliar atau sekitar Rp46 triliun pada tahun fiskal 2020, bahkan mencakup hampir SGD2 miliar atau sekitar 21 trilliun penurunan nilai yang sebagian besar disebabkan oleh surplus pesawat yang lebih tua terhadap persyaratan, tapi kami berharap tahun ini akan lebih baik,” tutur CFO Mr Barnes.

Untuk itu, SIA Group berencana akan menerbitkan obligasi konversi senilai lebih dari SGD6,2 miliar atau Rp66 trilliun, yang dijamin oleh pemegang saham mayoritas Temasek Holdings, dengan lebih banyak opsi untuk pembiayaan utang lebih lanjut jika diperlukan.

SIA Group saat ini beroperasi dengan 168 pesawat dan akan menghentikan lima pesawat, sambil menunggu kedatangan 24 pesawat baru di 2022 mendatang di antarany ada delapan 737-8 MAX.

Meski begitu, pengoperasian 737-8 MAX akan tetap tunduk dan menunggu persetujuan peraturan karena saat ini masih dilarang terbang di Singapura dan banyak wilayah lain setelah dua kecelakaan mematikan yang melibatkan maskapai Lion Air dan Ethiopian Airlines.

(Foto: Singaporeairlines.com/Istimewa/Sumber naskah: CNA/hm/cy)

Share :
You might also like