ASEAN SEOM Bahas Kelancaran Arus Perdagangan dan Investasi saat Pandemi

Jakarta, Airmagz.com – Negara-negara anggota ASEAN melakukan rangkaian Pertemuan ASEAN Senior Economic Officials (SEOM) and Dialogue Partners secara virtual pada Selasa (15/6/2021) lalu.

Rangkaian pertemuan ASEAN itu dilakukan bersama dengan Kanada, India, dan Tiongkok, serta ASEAN Plus Three yaitu Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan.

Selain penguatan kerja sama, sejumlah isu dibahas antara lain mitigasi dampak ekonomi di masa pandemi, kelancaran arus perdagangan dan investasi serta Proposal Tiongkok. Indonesia berharap ekonomi ASEAN dapat segera bangkit akibat dampak pandemi.

“Selain ASEAN SEOM, pertemuan dengan negara anggota ASEAN Plus Three memberikan komitmen dukungan untuk kebangkitan ekonomi ekonomi ASEAN akibat pandemi. ASEAN Plus Three berkomitmen mempererat kerja sama di kawasan dengan memastikan kelancaran arus perdagangan dan investasi serta berjalannya konektivitas rantai pasokan di masa pandemi ini. Berbagai inisiatif dan kerja sama telah dibahas untuk dapat dimanfaatkan oleh seluruh anggota,” tegas Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Indonesia, Kementerian Perdagangan (Kemendag), Djatmiko Bris Witjaksono, dalam keterangan resminya yang diterima Airmagz.com, Kamis (17/6/2021).

Pertemuan ASEAN SEOM and Dialogue Partners berlangsung selama dua hari, yaitu pada 14—15 Juni 2021. Sebelumnya ASEAN bertemu dengan Amerika Serikat, Korea, dan Jepang. Pertemuan ini bertujuan untuk memperkuat kerja sama antara negara ASEAN dengan negara-negara mitra.

13th SEOM–Canada Consultations

Pertemuan dimulai dengan 13th SEOM–Canada Consultations. Pada pertemuan ini, Delegasi Kanada dipimpin Director General for Trade Policy and Negotiations at Global Affairs Canada Kendal Hembroff dan diikuti Duta Besar Kanada untuk ASEAN Diedrah Kelly.

Pertemuan ini membahas penyelesaian Reference Paper for a possible ASEAN-Canada FTA. Dokumen tersebut direncanakan dapat disampaikan kepada para Menteri pada September 2021 dan digunakan sebagai pertimbangan untuk peluncuran ASEAN-Canada FTA.

Pertemuan juga membahas rencana pelaksanaan 2021 ASEAN-Canada Trade Policy Dialogue yang akan mengangkat isu-isu kebijakan perdagangan yang menjadi kepentingan bersama.

“Selaku country coordinator, Indonesia mengajak seluruh pihak untuk fokus kepada penyelesaian Reference Paper pada September 2021 sesuai dengan tenggat waktu yang sudah ditetapkan saat 9th AEM-Canada Consultations tahun lalu,” ujar Djatmiko.

Djatmiko menyampaikan, dalam Reference Paper masih terdapat outstanding issues yang membutuhkan diskusi lebih lanjut. “Terutama dalam memberikan gambaran sifat komitmen yang diinginkan Kanada dalam konteks FTA untuk memberikan kejelasan dan kepastian yang lebih besar bagi negara-negara anggota ASEAN,” ujarnya.

37th SEOM – Plus Three Consultations

Rangkaian pertemuan dilanjutkan dengan 37th SEOM–Plus Three Consultations. Pertemuan ASEAN dengan Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan ini membahas draf ASEAN Plus Three Economic Cooperation Work Plan (ECWP) 2021—2022.

Program kerja tersebut di antaranya pelaksanaan penelitian bersama, dialog sektoral, bantuan teknis dan peningkatan kapasitas dalam berbagai bidang, kerja sama dan dialog dengan pelaku usaha, serta kerja sama dalam mendukung implementasi Perjanjian Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).

Pada pertemuan ini juga dibahas perkembangan pelaksanaan ASEAN Plus Three Plan of Action (APT POA) on Mitigating the Economic Impact of the COVID-19 Pandemic yang berisi sejumlah langkah konkret kerja sama penanganan dan mitigasi dampak negatif ekonomi dari pandemi COVID-19 di negara anggota.

33rd SEOM – India Consultations

Pertemuan dilanjutkan dengan Konsultasi dengan India terkait beberapa agenda. Agenda tersebut di antaranya implementasi penuh ASEAN-India Investment Agreeement (AIIA) oleh seluruh pihak ASEAN-India Free Trade Area (AIFTA) sejak Februari 2021, perhatian utama ASEAN atas penerapan Customs (Administration of Rules of Origin under Trade Agreements) atau CAROTAR 2020 oleh India yang telah disampaikan oleh Malaysia mewakili AEM, ASEAN’s Scoping Paper on the Review of the ASEAN-India Trade in Goods Agreement (AITIGA); dan rekomendasi penguatan fungsi ASEAN-India Business Council (AIBC) dari sisi ASEAN dan India (FICCI).

Djatmiko menyampaikan dukungannya atas rencana dilaksanakannya review AITIGA dan komitmen untuk terlibat secara aktif dalam proses peninjauan serta meminta India untuk segera menyampaikan tanggapannya atas scoping paper yang telah disampaikan ASEAN.

Tujuannya agar scoping paper review AITIGA tersebut dapat disahkan pada Pertemuan 18th AEM-India Consultations mendatang dan Joint Committee dapat dibentuk untuk melaksanakan review dimaksud.

Terkait agenda persiapan 18th AEM-India Consultations pada September 2021, delegasi menyepakati pengesahan scoping exercise of the review AITIGA dan aktivasi pembentukan AIFTAJoint Committee (JC) dalam review AITIGA sebagai deliverables pada Pertemuan.

39th SEOM – MOFCOM Consultations

Menutup rangkaian pertemuan, Djatmiko kembali memimpin delegasi Indonesia dalam Pertemuan 39th SEOM-MOFCOM Consultations.

Pertemuan membahas berbagai isu terkait implementasi ACFTA termasuk rencana pembahasan ACFTA Further Liberalisation of Trade in Goods Agreement; dukungan Tiongkok terhadap negara anggota ASEAN dalam mengimplementasikan RCEP, dukungan Tiongkok terkait intensi Hong Kong untuk menjadi partisipan Perjanjian RCEP, serta usulan Tiongkok untuk meluncurkan “Joint Statement by ASEANChina Economic Ministers on Further Enhancing Trade and Economic Cooperation” sebagai bentuk perayaan 30 tahun hubungan dialog ASEAN-Tiongkok.

Djatmiko menyoroti proposal Tiongkok untuk memberikan bantuan kepada negara anggota ASEAN dalam mengimplementasikan RCEP dan terkait dukungan Tiongkok terhadap intensi Hong Kong untuk menjadi partisipan RCEP.

“Indonesia secara prinsip dapat menerima intensi Hong Kong untuk menjadi bagian perjanjian RCEP, mengingat perjanjian ini telah memiliki ketentuan aksesi. Indonesia juga mengapresiasi intensi Tiongkok dalam memberikan dukungan dan bantuan teknis ke negara anggota ASEAN agar dapat mengimplementasikan perjanjian RCEP secara efektif,” ujar Djatmiko.

Lebih lanjut, Djatmiko mengungkapkan dalam waktu dekat akan ada dua platform dalam hubungan ekonomi dan perdagangan antara ASEAN dengan Tiongkok, yaitu melalui ACFTA dan RCEP.

“Hal ini dipandang akan memberikan peluang bagi ASEAN dalam memanfaatkan kerja sama ekonomi, khususnya terkait peningkatan kapasitas maupun bantuan teknis yang diperlukan oleh ASEAN dengan memanfaatkan dana yang telah disiapkan Tiongkok untuk meningkatkan integrasi ekonomi di kawasan,” pungkasnya.

(Foto: Dok Biro Humas Kemendag/Istimewa)

Share :
You might also like