Jaga Etika di Ruang Digital Agar Tak Merugikan

Sukabumi, airmgaz.com – Dunia maya memiliki konsekuensi yang nyata, maka diperlukan pengetahuan beretika. Etika digital menjadi sangat penting, maka sangat penting dan perlu disebarluaskan kepada warganet.

Mengapa etika digital sangat penting di dunia digital? Ghifari, penulis naskah @FMMStudio, channel YouTube penghasil webseries dan film pendek ini memaparkan, beretika itu penting sebagai citra positif masyarakat Indonesia di mata dunia. Dengan adanya predikat netizen paling tidak sopan, citra masyarakat Indonesia pun ikut berubah. Ramah dan gotong royong seakan kini hilang jauh dari citra masyarakat Indonesia saat ini.

“Stabilitas negara pun dapat berpengaruh. Memang terkesan jauh, tidak nyambung. Namun nyatanya seperti itu, ketika ada ketegangan di dunia maya dapat dibawa ke dunia nyata sehingga dapat terjadi perang saudara. Otomatis stabilitas negara terganggu,” ungkapnya dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (23/6/2021).

Selanjutnya, alasan kita harus beretika baik di dunia digital ialah menjaga kesehatan mental diri sendiri maupun orang lain. Sebuah riset mengatakan lebih dari 40% kasus bunuh diri akibat cyber bullying yang terjadi di media sosial. Terkadang orang lupa perkataan itu dapat merusak mental orang lain. Tengok artis Korea Selatan yang penuh popularitas namun tidak jauh juga dari haters yang mem-bully.

Bagi Ghifari, ruang digital ialah lingkungan belajar berkembang terlebih di masa pandemi seperti saat ini masyarakat kehilangan tempat belajar dan juga berinteraksi. “Maka dunia digital ini harus selalu dijaga, sebab di sinilah nanti tempat berinteraksi, belajar dan mendapat pengalaman baru untuk kita bertumbuh,” tambahnya.

Terakhir, etika itu sangat penting di ranah digital untuk keamanan dan kenyamanan masyarakat Indonesia dan dunia. Masyarakat Indonesia dan Malaysia sering cekcok masalah perebutan budaya maupun pulau. Padahal permasalahan sesungguhnya sudah selesai namun di dunia digital perang dingin ini masih terjadi.

Warga digital atau netizen itu ada yang aktif dan pasif. Netizen aktif yang beraksi dan netizen yang pasif itu yang bereaksi. Ketika kita menjadi yang beraksi pastikan kita menyaring apa yang kita ingin bagikan.

“Kita juga harus bersyukur jangan iri melihat apa yang dibagikan oleh orang di media sosial. Paham apa tujuan kita membagikan sesuatu ditambah juga harus memberi ruang untuk diskusi dan mencari solusi,” jelasnya.

Sebagai netizen yang bereaksi atau yang sering melihat postingan orang lain kita tidak boleh julid atau menyinyir. Kemudian saat memberi respon yang sesuai pahami konten baru bereaksi. Netizen yang baik juga harus mampu menerima perbedaan. Jika postingan seseorang berbeda pendapat dengan kita jangan sampai kita mencaci apalagi sampai mengajak berdebat. Terakhir, menghargai hasil karya mereka jangan membagikan ulang tanpa menyebutkan sumber.

Share :
You might also like