Hindari Perundungan di Ruang Digital, Kenali Jenisnya

Cianjur, airmagz.com – Indonesia menjadi negara dengan kasus cyber bullying terbesar nomor 1 di dunia berdasarkan penelitian Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang menyatakan 49% dari 5900 responden mengalami perundungan di internet.

Apakah itu perundungan di dunia maya atau menggunakan teknologi digital? Hal ini dapat terjadi di media sosial, game online dan ponsel. Banyak yang masih tidak paham dengan kata rundung. Maka kita bisa mengartikan rundung itu sebagai ditindas karena memang orang yang sedang di-bully rasanya seperti orang sedang tertindas.

Apa saja termasuk cyber bullying? Chintya Pariz, Creator Head of Benang merah Creator & Digital menjelaskan dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Rabu (23/6/2021).

Harassment ialah ketika seseorang mengirimkan pesan atau teks kepada orang lain dengan amarah tetapi dilakukan terus-menerus. Ini terjadi pada orang yang memang dibenci netizen entah karena karakternya di sebuah film ataupun juga penampilan yang kurang oke di mata para netizen. Ini memang sangat menyedihkan karena netizen sangat subjektif fisik tidak seperti yang mereka suka malah di-bully.

Flaming atau beradu argumen di media sosial dengan mengirimkan pesan atau teks yang frontal dan penuh amarah. “Jika kita melihat orang bertengkar di dunia nyata seperti inilah yang terjadi di dunia digital yakni perang kata-kata penuh dengan amarah dan mengeluarkan kata-kata tidak pantas,” ucapnya.

Biasanya kita melihat kejadian ini di postingan para selebritis yang sedang di-bully oleh netizen. Mereka membalas kemudian disusul oleh para fansnya yang ikut emosi. Akhirnya yang terjadi pertengkaran antara haters dan fans.

Jenis cyber bullying lainnya ialah Outing & trickery menipu seseorang kemudian membujuknya agar mendapatkan informasi atau foto rahasia kemudian disebarluaskan. Denigration, secara online menyebarluaskan informasi merugikan atau tidak benar untuk merusak reputasi seseorang. Hampir sama juga ada impersonation yakni membajak akun orang lain dan kemudian mengunggah pesan-pesan yang seolah-olah adalah si korban.

“Sekarang sudah banyak kejadian akun media sosial atau aplikasi chatting untuk menipu, ini untuk kepentingan ekonomi. Jika niatnya ingin merusak reputasi orang tersebut setelah membajak dia akan memposting hal-hal buruk yang gunanya untuk menurunkan citra positif dari korban,” jelas Chintya.

Dampak bagi korban perundungan online ini jika dilihat dari psikologisnya, dia akan mudah depresi, marah, timbul perasaan gelisah, cemas, cenderung ada niat untuk menyakiti diri sendiri bahkan melakukan percobaan bunuh diri. “Dampak sosial, seseorang yang di-bully, dia akan menarik diri karena kehilangan kepercayaan diri. Menjadi lebih agresif kepada teman dan keluarga jika masih di bangku sekolah akan terjadi penurunan prestasi akademik, tidak mau sekolah dan perilaku bermasalah di sekolah,” ungkapnya.

Untuk menghindarkan diri dari pelaku cyber bullying kita dapat meningkatkan empati dengan ikut merasakan perasaan orang lain. Selalu berpikir positif untuk mendengarkan suara hati guna melakukan hal yang benar. Jangan lupa untuk selalu berpikir dulu sebelum berkata atau mengetik komentar untuk orang lain. Kita juga harus menghormati orang lain, lebih toleransi menghargai perbedaan dan memperlakukan orang dengan baik.

Langkah yang dilakukan saat menerima cyberbullying ialah tetap tenang dan abaikan segala bentuk perundungan. Selalu berpikir positif dan tetap bangga dengan diri sendiri. Kemudian kumpulkan bukti dengan melakukan tangkapan layar kemudian laporkan pelaku dan yang pasti kita harus memblokir pelaku agar tidak terus-terusan mengganggu.

Share :
You might also like