Ingin Memulai Investasi? Pahami Dulu Sistemnya

Cirebon, airmagz.com – Pada Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Rabu (23/6/2021) ada satu bahasan menarik yang dipaparkan salah satu narasumber yakni mengenai investasi saham oleh Pipit Andriani, Public Speaking Coach yang juga seorang investor saham.

Menurutnya investasi di Indonesia itu harus diajarkan minimal dasar-dasarnya. Karena semakin maju suatu negara maka populasinya itu melek investasi. Di Indonesia tidak sampai 1% populasinya tidak paham tentang bagaimana investasi itu bekerja dan mengenai sistemnya.

Menurut Pipit, sayang sekali karena sebenarnya saham itu adalah salah satu jenis investasi yang paling menguntungkan dibandingkan tabungan, deposito, emas bahkan obligasi negara atau surat utang.

“Jika berinvestasi di saham, kita bisa dapat capital gain atau modal yang kita masukkan itu bisa kembali dengan cukup signifikan lalu kita juga juga akan dapat dividen setiap setahun sekali atau 6 bulan sekali tergantung usahanya. Mereka membagikan dividen perlembar saham yang kita beli,” jelasnya.

Setiap investasi ada kemungkinan rugi, maka risiko pun harus diketahui setiap investor. Saat berinvestasi saham, tidak dapat dicairkan setiap saat, maka ketika butuh uang tidak bisa mengandalkan sahamnya jadi akhirnya harus bergantung pada aset kita yang lain. Cara membeli sahamnya itu ada tiga strategi yakni kerja fundamental analisis, teknikal analisis dan ketiga bisa lewat reksadana atau dollar cost averaging.

Fundamental analisis itu intinya melihat apakah suatu saham itu mahal atau tidak. harga-harga per lembarnya berapa dibagi keuntungannya per lembar tersebut istilahnya PE. Contohnya saham Gudang Garam harganya Rp 37.775 perlembar dibandingkan saham HM Sampoerna Rp 1.475 per lembar kalau dilihat secara jelas terlihat Gudang Garam yang mahal tapi kalau kita lihat PE dan PBV sebenarnya Sampoerna yang lebih mahal karena yang kita dapat sahamnya jauh lebih kecil daripada harganya.

“Jadi patokannya adalah ketika PBV itu di atas satu koma sudah termasuk mahal.

Gudang Garam sudah 1,28 sedangkan Sampoerna 5,99. Jadi Sampoerna lebih mahal walaupun harga secara rupiahnya lebih murah,” ungkapnya.

Pipit menegaskan, jika tidak ingin hitung menghitung kini sudah banyak aplikasi yang banyak menyediakan informasi tersebut contohnya RTI Business, Stockbit, Investing.com. Kemudian kita lihat fundamentalnya ada perusahaan yang sebenarnya merugi tapi harga sahamnya naik terus ini yang dinamakan saham gorengan. Fundamentalnya secara perusahaan tidak sehat mungkin mengalami kerugian atau manajemen yang tidak bagus tapi mereka bisa membuat saham selalu naik. Ini seperti bom waktu lebih baik dihindari yang seperti ini ketika suatu perusahaan memutuskan untuk menjual saham mereka wajib melaporkan kan income statement atau penghasilan mereka naik turun atau tetap itu bisa dilihat juga di aplikasi investasi saham tadi.

“Jadi sebelum membeli saham harus dilihat dulu perusahaannya sehat atau tidak walaupun harga saham naik tapi keuntungannya menurun berarti ada yang tidak beres secara fundamental tidak sehat,” jelasnya.

Pilihan investasi saham tanpa harus bingung menghitung dan mencari tahu finansial perusahaan atau siapa komisarisnya dan grafik perubahan dari waktu ke waktu dapat memilih reksadana. Reksadana mempercayakan manajer investasi untuk menginvestasikan uang kita atau modal kita tapi nanti mereka akan dapat persenan.

“Kalau reksadana itu bisa rugi sampai 100% kalau untung bisa sampai 600 persen, jadi itu risiko reksa dana itu lebih kecil daripada kita beli saham sendiri tapi jam terbang kita belum lama,” sarannya.

Share :
You might also like