Bahaya Hoaks di Tengah Masyarakat, Saring Sebelum Sharing

Kuningan, airmagz.com – Hoaks adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tapi dibuat seolah-olah benar dan bisa menimbulkan kekacauan informasi, salah satunya bisa berupa misinformasi yaitu informasinya salah namun orang yang menyebarkannya percaya itu benar tanpa sengaja.

“Dari beberapa contoh kasus kebanyakan penyebar hoaks karena ketidaksengajaan adalah usia remaja belasan. Ini yang seharusnya kita rangkul untuk bermedia sosial dengan baik,” ujar Yani Sujana dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia, saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Kamis (24/6/2021).

Sebabnya sangat penting untuk mengetahui ciri-ciri hoaks agar terhindar dari pidana UU ITE. Ciri-ciri hoaks di antaranya memiliki judul bombastis dan sumber berita yang tidak jelas. Narasinya pun provokatif dan artikelnya menyembunyikan fakta. Lalu biasanya minta disebarkan dan divitalkan, argumennya pun kelihatan ilmiah namun salah.

“Kalau kita membaca suatu berita menjadi marah, panas, kita harus ragu apakah benar. Kalau kita membacanya santai saja dan itu ada di berita media nasional berarti tidak provokasi,” katanya Yani.

Lalu apa pentingnya menyaring berita hoaks? Masyarakat perlu belajar pentingnya memilah dan menyaring informasi. Selain itu menjadi cara mempersiapkan masyarakat cakap digital dan mempunyai etika bermedia sosial. Permasalahan saat ini yang masih menjadi pekerjaan besar adalah masyarakat kurang literasi sehingga mudah percaya hoaks.

Rendahnya literasi menyebabkan masyarakat hanya membaca judul tanpa membaca isi. Lalu hanya percaya sumber tertentu dan sepihak, tidak bisa membedakan hoaks dan bukan, serta tidak memahami cara periksa fakta secara sederhana.

Webinar Literasi Digital di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Hadir pula nara sumber seperti Aditya Nova Putra, Ketua Jurusan Hotel Pariwisata IULI, Dino Hamid sebagai Ketua Asosiasi Promotor Musik Indonesia, dan Firzie A. Idris Assistant Editor Kompas.com. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Share :
You might also like