FOMO Mengubah Interaksi Sosial, Kenali Efeknya

Sumedang, airmagz.com – Saat ini internet sudah menjadi bagian dari kehidupan setiap orang. Digunakan untuk melakukan pembelajaran secara daring, mencari hiburan hingga berkomunikasi dengan teman sebaya, bahkan juga digunakan sebagai sarana promosi dan membangun kedekatan dengan konsumen.

Maman Suherman, Pegiat Literasi Digital saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Sumedang, Jawa Barat I, mengungkapkan interaksi sosial dengan keberadaan teknologi di era digitalisasi telah mengubah banyak hal. Termasuk saat brand akhirnya menggunakan komunikasi lewat sosial media untuk mendekatkan diri dengan konsumen. Dalam tahap mengenalkan produk, orang kini tak langsung memiliki keinginan membeli namun akan mencari informasi lebih banyak dan melihat ulasan.

Sementara di sisi interaksi dengan manusia lain yang mengandalkan teknologi orang kini menjadi tak bisa lepas dari gadget mereka, bahkan bisa menjadi sangat ketergantungan.

“Saat ini dengan sebagian besar orang memegang handphone rata-rata 9 jam per hari orang takut tidak terhubung jadilah yang disebut FOMO (frear of Missing out). Akhirnya anak-anak juga ada yg kecanduan dan mengalami gangguan kejiwaan,” kata Maman.

Hal ini bisa terjadi karena sebenarnya anak-anak hanya boleh pegang handphone 2 jam bahkan di bawah 12 tahun tidak boleh lebih dari setengah jam. Menurut Maman, sebagian besar orang mengalami FOMO tapi lupa untuk tidak takut tidak berkomunikasi dengan sekeliling. Sebagian orang pun akhirnya keluar dari batas etika karena merasa tidak berhadapan langsung dengan lawan bicara.

“Etika di ruang publik dilanggar, etika di ruang media maya apalagi karena kita menganggap berjauhan bisa melakukan apapun tanpa berhadap-hadapan langsung,” kata Maman lagi.

Perubahan interaksi sosial di era internet ini juga membutuhkan peran orang tua untuk melindungi anak. Tantangan di ruang digital semakin besar dengan adanya konten-konten negatif, kejahatan penipuan daring, perjudian, eksploitasi seksual pada anak, ujaran kebencian, hingga radikalisme berbasis digital.

“Sebagai calon generasi penerus, anak kelak harus menjadi netizen yang cerdas berkarakter dan mampu menggunakan teknologi digital. Namun kita sebagai orang tua tak ingin anak hanyut di dunia digital. Tapi juga aktif, bertanggung jawab dan memiliki sosial skills yang baik di masyarakat,” ujar Diena Haryana, Founder SEJIWA.

Di sinilah peran penting orang tua untuk membimbing anak di tengah pesatnya perkembangan era digital. Orang tua bisa memulainya dengan melakukan gaya komunikasi yang asertif, artinya ada di tengah-tengah tidak pasif namun juga tidak cenderung agresif dengan banyak melarang dan marah-marah.

Dia pun memberikan saran agar orang tua menerapkan zona bebas gawai untuk anak di rumah, sehingga anak terbiasa berinteraksi dengan anggota keluarganya. Zona benas gawai ini beberapa di antaranya di ruang makan dan ruang tidur. Orang tua juga diajak untuk hadir dan menjadi contoh terlebih dahulu. Sebagai vonyoh, ketika di tumah, bicara dan pandang wajah anak. Hal lain yang bisa dilakukan adalah menjadi teman bagi anak, membuat rencana yang asik misalnya masak bareng, dengan begitu orang tua akan menjadi nomor satu yang ada dibenak anak.

Saran lainnya untuk melindungi dan menjaga keamanan anak saat berinternet adalah orang tua perlu melek digital terlebih dahulu, serta memahami aturan konten untuk anak-anak. “Cegah mereka untuk masuk ke ranah yang tidak baik, bisa diset up kapan mereka bisa akses dan ada pengaturannya,” katanya lagi.

Share :
You might also like