Pengoperasian Seaplanes Dengan Waterbase Terintegerasi

Transportasi adalah kebutuhan dasar bagi sebuah Negara. Utamanya bagi Negara kepulauan yang terpisah antar daerah untuk pemerataan perekonomian rakyat. Pada awalnya, transportasi laut memang menjadi satu-satunya kebutuhan, namun, sejak awal abad 20 keberadaan pesawat menjadi meningkatkan efektifitas dan efisiensi transportasi melalui udara.

Semakin memasuki abad ke dua puluh satu, pesawat pun semakin berkembang teknologinya dengan muncul banyak pesawat amfibi. Pesawat amfibi adalah pesawat yang memiliki float pada bagian bawah badannya yang berguna untuk melakukan operasional di air. Selain juga memiliki sistem roda pendarat, sehingga pada saat tertentu tetap dapat melakukan operasional dari dan menuju daratan.

Pada beberapa Negara, operasional pesawat amfibi sangat terdukung dengan baik, sehingga aktifitasnya menjadi sangat mendukung terutama untuk pariwisata, kelautan dan perikanan. Salah satu contoh, seorang pilot seaplanes dari Australia menyebutkan bahwa pengoperasian seaplanes lebih efektif karena tidak mebutuhkan bandara khusus. Bandara khusus yang dimaksud adalah waterbase.

Australia memang memiliki regulasi yang berbeda daripada Indonesia, namun operasional seaplanes menjadi sangat mudah karena ketika seaplanes mendarat di perairan, maka pesawat diperlakukan dengan regulasi kapal laut. Sehingga lebih menghemat biaya tanpa perlu ada pembangunan waterbase seperti pada Negara-negara lainnya termasuk Indonesia.

Saat ini, di Indonesia baru memiliki dua watebase saja, yakni di Pulau Moyo di Sumbawa dan waterbase milik PT Newmon. Seiring dengan program nawacita Presiden RI, poros maritim adalah salah satu unggulannya, sehingga operasional seaplanes seharusnya dapat menjadi produk transportasi unggulan di Indonesia yang terkenal sebagai Negara kepulauan dengan panjang pantai terpanjang di dunia sejauh 1900000 kilometer.

Adapun membuat waterbase untuk operasional seaplanes pun dibebankan kepada para operator mulai dari biaya hingga pembangunannya, sehingga cenderung membuat nilai investasi bertambah dari yang diharapkan dengan panjang waktu birokrasi yang juga sangat menyita waktu.

Terdapat dua harapan dari keberadaan operasional seaplanes ini, antara lain: Pemerintah RI membangun fasilitas waterbase pada titik-titik yang berpotensi untuk pariwisata, kelautan dan perikanan; atau mengadopsi kemudahan dari Australia dengan memberlakukan seaplanes seperti kapal laut ketika beroperasi di air sehingga lebih sedikit biaya dikeluarkan daripada membangun waterbase.

Indonesia akan menjadi semakin indah dan sejahtera ketika dukungan transportasi bagus dan lancar. Sebagai contoh, saat ini, wisatawan menuju Raja Ampat, berangkat dari Jakarta harus mengeluarkan uang yang sangat mahal karena harus melakukan penerbangan dari Jakarta menuju Sorong, kemudian dilanjutkan lagi menuju Raja Ampat dengan menggunakan boat. Bahkan orang Indonesia lebih sering berlibur ke Singapura daripada ke Raja Ampat karena menuju Raja Ampat membutuhkan biaya lima kali lipat daripada ke Singapura.

Dengan menggunakan pesawat jet amfibi long range, dari Tanjung Priok terbang selama lima atau enam jam dan langsung mendarat on the spot Raja Ampat, selain menghemat waktu pasti akan menjadi objek wisata unggulan untuk seluruh kalangan sehingga rakyat Indonesia dapat melihat Indonesia jauh lebih indah daripada sebelumnya.

Dalam pengoperasian seaplanes yang sangat dapat menjadi transportasi unggulan ini sangat membutuhkan waterbase yang terintegerasi dengan pelabuhan laut. Sehingga dengan adanya waterbase yang terintegerasi pada pelabuhan laut, pengoperasian seaplanes dapat lebih mudah dan terdukung tidak seperti saat ini dimana seaplanes hanya dapat mendarat di daratan selain pada waterbase Pulau Moyo dan PT Newmon.

Waterbase yang terintegerasi dengan pelabuhan laut pun akan lebih menghemat biaya daripada harus membangun waterbase baru. Sangat dibutuhkan peran pemerintah dalam menekankan supplement regulasi yang ada sehingga slogan Indonesia sebagai Negara maritim sebagai poros maritim dunia dapat terwujud dengan optimal.

 

Salam Penerbangan

Capt Teddy Hambrata Azmir

Direktur Teknis 3 General Aviation

Ikatan Pilot Indonesia

 

Baca Juga : Boeing Coba Kembangkan Pesawat Berukuran Medium

Share :
You might also like