IARC : New Garuda Management, Prioritas Didalam Lingkungan Yang Berubah

Untuk  menjalankan perusahaan penerbangan maka  safety dan security adalah aspek mandatory dan  harus ditaati secara hitam putih. Semua aktivitas yang dilakukan wajib mengikuti aturan-aturan secara rigid karena penyelengaraan penerbangan berkaitan dengan  keselamatan jiwa penumpang dan crew pesawat yang tidak dapat diukur nilai materil.

Karenanya Kementerian Perhubungan mengeluarkan CIVIL AVIATION SAFETY REGULATIONS. (C.A.S.R.) yang maksudnya untuk memastikan aspek safety and securities telah dilaksanakan secara konsisten oleh semua perusahaan penerbangan yang beroperasi di Indonesia.

CASR 121.59 Management Personnel Required

(a) Each applicant for a certificate under this subpart must show that it has sufficient qualified management personnel to provide adequate direction in all operational matters and ensure an acceptable level of safety is being maintained. Such personnel must be employed on a full time basis in at least the following or equivalent position:

(1) Managing or President Director

(2) Director of Safety (company aviation safety officer)

(3) Director of Operation

(4) Director of Maintenance

(5) Chief Pilot

(6) Chief inspector

(7) Chief Flight attendant (Director of cabin safety) (if applicable)

(8) Other supervisory positions required.

Berdasarkan aturan diatas maka  seyogianya Garuda Indonesia sebagai perusahaan penerbangan Nasional  seyogianya mematuhi aturan tersebut, dengan secepatnya mengadakan posisi tersebut didalam organisasi Garuda Indonesia dengan semua persyaratannya.

Value Chain Airlines Industry

Didalam perspective diatas  maka Airline business process  dapat disederhanakan dengan Porter Value Chain seperti gambar dibawah ini

Dari gambar diatas bahwa terdapat Main Function  seperti Inbound logistics,Operation,Outbound Logistics, Marketing/Sales dan Service dan Supporting function seperti Firm Indrastructure,HRM, Technology Development dan procurement

Garuda Indonesia,  Airline Company

Airline industry sangat berbeda dengan industri lainnya demikian juga pasarnya dan akan berubah-ubah dari waktu kewaktu. Sebagai berikut

1) Sebuah industri padat modal dengan biaya tetap tinggi:

Sebuah bisnis dianggap padat modal tergantung pada rasio modal yang dibandingkan jumlah tenaga kerja. Hal ini menempatkan industri ini dengan risiko yang lebih tinggi. Ini adalah mengapa ada frekuensi yang lebih tinggi dari kebangkrutan di industri penerbangan dan juga merger dan akuisisi rute untuk mendapatkan keuntungan kompetitif. Faktor ini membuat industri yang unik.

2) Profitabilitas relative rendah:

Setiap biaya bahan bakar waktu naik, atau pajak baru dikenakan, atau mogok staf terjadi; atau ada ketidakmampuan untuk menaikkan tarif sebanding dengan biaya yang meningkat, berakibat kepada penurunan profitabilitas. Tetapi beberapa perusahaan telah mampu membuat atas keuntungan industri-rata menggunakan model bisnis yang unik mereka. Misalnya, Low Cost carrier model ternyata dapat survive ditengah persaingan bisnis penerbangan.

3) Kerentanan tinggi terhadap keadaan ekonomi:

Industri penerbangan adalah terlalu banyak tergantung pada skenario ekonomi global. Setiap kali perlambatan ekonomi atau resesi terjadi, customer akan memilih transportasi  yang lebih murah seperti kereta api atau jalan; berkurangnya wisatawan yang bepergian; pebisnis mengurangi  perjalanan yang direncanakan sehingga penerbangan harus menjalankan dengan kursi kosong. Akibatnya, mereka menghadapi krisis likuiditas yang parah.

Biaya BBM adalah 35-40% dari biaya sebuah maskapai penerbangan setiap krisis  global yang menyebabkan kenaikan harga  harga BBM akan secara otomatis mempengaruhi biaya operasi maskapai penerbangan.

4)  High barrier to entry and regulations in the market:

Biasanya penerbangan sangat diatur karena kekhawatiran politik, ekonomi dan keamanan sehingga penerbangan baru sulit beroperasi. Kenyataannya   penerbangan baru merasa sulit untuk mendapatkan slot di bandara besar di Indonesia.

5) Low Switching Cost for Customer :

Hal ini sangat sulit bagi maskapai penerbangan untuk mengembangkan basis pelanggan setia, terutama di pasar seperti Indonesia. Ini sebabnya mengapa semua maskapai besar telah antusias menjalankan Program Frequent Flyer dan skema loyalitas pelanggan lainnya.

6) Being central to globalization

Karena peran pusat, industri penerbangan telah tumbuh dengan cepat dan dapat diidentifikasi dengan globalisasi. Ini memfasilitasi perdagangan global, bisnis internasional, pariwisata, dan karenanya membantu pertumbuhan ekonomi dari semua bangsa. Sulit untuk membayangkan jika dunia saat ini akan menjadi  global, tanpa penerbangan cepat, efisien dan nyaman.

7) Aliansi dan optimasi

Seperti yang dilakukan oleh Garuda Indonesia bahwa dengan program Aliansi dengan Sky Team telah memberikan perusahaan nilai tambah baik dari segi marketing dengan  menjangkau lebih banyak market dan peningkatan standard service karena harus comply dengan standard level yang telah ditetapkan sebelumnya.

(Kumar Rahul, B.E. (NIT, Durgapur), MBA (NMIMS, Mumbai)

New Competition Landscape

Trend digital economy ternyata telah mengubah competitor landscape bukan hanya Full service airline dan Low cost carrier competition saja tetapi mengarah kepada New Digital Competition dimana setiap orang dapat mengakses product airlines dan dapat membundlingnya untuk customer. Trend demikian juga terjadi pada moda2 transportasi lain seperti Uber, Gojeg, Grab atau pada hotel industry seperti Air BNB

Didalam mengantisipasi perkembangan tersebut seyogianya Garuda Indonesia seyogianya lebih memahami  new customer  needs and wants dan memuaskan mereka lebih dari pada pesaing .

Market coverage yang sangat luas domestik dan internasional market, dengan needs and wants yang berbeda-beda dari masing-masing provinsi di Indonesia dan masing-masing negara. Sehingga dapat diciptakan kebijakan umum yang dapat memuaskan needs and wants masing-masing segmen market.

Lebih jauh trend growth masing-masing negara juga sudah berubah seperti yang terjadi pada destinasi Jepang  dimana 5 tahun yang lalu tourist Jepang ke Indonesia mendominasi penerbangan Jakarta-jepang. Sedangkan pada tahun 2016 total ada 270.000 wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Jepang, melonjak 32 persen dari kunjungan tahun lalu  sedangkan turis jepang ke Indonesia kurang dari 390 ribu orang. (Kompas januari 2017)

Bahkan 5 tahun yang lalu  di domestik dimana proporsi penumpang dari/ke Jakarta 70% adalah dari Jakarta dan telah terjadi perubahan dimana terjadi penurunan proporsi penumpang ex Jakarta setelah perubahan beleid pemerintah untuk memberikan proporsi APBN lebih kepada daerah-daerah. (Portal Dirjen Perimbangan Keuangan)

Sehingga dibutuhkan inovasi yang terus menerus pada produk dan distribusi untuk memberikan pilihan superior produk untuk memuaskan keinginan pelanggan dan memudahkan customer untuk  mengakses produk tersebut.

Kesimpulan

Organisasi baru PT Garuda Indonesia Tbk seyogianya mengakomodasi aturan CASR dimana mengamanatkan adanya Direktur Operasi. Direktur Tehnik dan Direktur Safety.

Pemahaman airline business process yang comprehensive akan mempercepat eksekusi program-program recovery    untuk menuju sustainability perusahaan  didalam jangka panjang. Lebih jauh untuk memenangkan persaingan sekaligus meningkatkan profitabilitas perusahaan dalam jangka pendek.

 

Penulis: 

Marco Umbas

Divisional Head of IARC

Share :
You might also like